neuroscience di balik scrolling
bagaimana antarmuka media sosial membajak sistem reward otak
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Lampu kamar sudah dimatikan. Kita berbaring di kasur, menarik selimut, dan membuat sebuah janji yang sangat familier di dalam kepala: "Saya cuma mau cek linimasa lima menit lagi, habis itu tidur."
Lalu, kita menggeser layar ke atas. Muncul satu video lucu. Kita geser lagi. Ada gosip selebritas terbaru. Geser lagi. Opini politik yang bikin emosi. Tiba-tiba, tanpa kita sadari, jam di ujung layar sudah menunjukkan pukul dua pagi.
Pernahkah kita bertanya-tanya, sihir gelap macam apa yang membuat kita menatap layar bercahaya selama berjam-jam seperti zombie? Mengapa jempol kita seolah bergerak sendiri, mengabaikan mata yang sudah perih dan otak yang butuh istirahat?
Mari kita sepakati satu hal sejak awal. Ini bukan karena kita malas. Ini bukan karena kita kurang disiplin. Jika teman-teman merasa kehilangan kendali atas waktu saat bermain media sosial, percayalah, kita tidak sendirian. Kita sedang menghadapi sebuah desain antarmuka yang dirancang secara khusus, hati-hati, dan memakan biaya miliaran dolar, hanya untuk satu tujuan: membajak sistem paling primitif di dalam otak kita.
Untuk memahami bagaimana otak kita dibajak, kita harus mundur sejenak ke tahun 1950-an. Jauh sebelum ponsel pintar diciptakan, seorang psikolog bernama B.F. Skinner melakukan eksperimen yang mengubah sejarah.
Skinner memasukkan seekor burung merpati ke dalam kotak. Di dalam kotak itu ada sebuah tombol. Jika burung itu mematuk tombol, makanan akan keluar. Awalnya, burung itu mematuk secara acak. Namun, ia segera belajar. Patuk tombol, dapat makanan. Patuk tombol, dapat makanan. Ini adalah hukum sebab-akibat yang sangat sederhana.
Tapi Skinner adalah ilmuwan yang penasaran. Ia mulai mengubah aturannya.
Bagaimana jika makanannya tidak keluar setiap kali tombol dipatuk? Bagaimana jika makanannya keluar secara acak? Kadang keluar setelah satu patukan. Kadang butuh sepuluh patukan. Kadang tidak keluar sama sekali.
Teman-teman tahu apa yang terjadi? Burung merpati itu menjadi gila. Ia mematuk tombol itu terus-menerus, tanpa henti, dengan obsesif. Ketidakpastian—fakta bahwa ia tidak tahu kapan hadiahnya akan datang—justru membuat perilakunya makin intens. Dalam dunia psikologi, ini disebut sebagai variable ratio schedule. Ini adalah fondasi psikologis dari setiap mesin judi di kasino Las Vegas.
Sekarang, mari kita lihat kembali ponsel di genggaman kita. Bukankah menggeser layar (scrolling) adalah versi modern dari mematuk tombol?
Mari kita perhatikan desain aplikasi media sosial favorit kita. Pernahkah kita sadar betapa miripnya gerakan pull-to-refresh—menarik layar ke bawah untuk memunculkan konten baru—dengan gerakan menarik tuas pada mesin slot kasino?
Ini bukan kebetulan. Ini adalah desain yang sangat disengaja.
Setiap kali kita membuka aplikasi, kita tidak tahu apa yang akan kita dapatkan. Apakah kita akan melihat pesan dari orang yang kita sukai? Apakah unggahan kita mendapat banyak likes? Atau kita hanya akan melihat rentetan iklan dan meme garing? Ketidakpastian inilah yang membuat kita terus menarik tuas mesin slot digital tersebut.
Ada satu fitur lagi yang paling bertanggung jawab atas jam tidur kita yang berantakan: infinite scroll atau gulir tanpa batas. Dulu, antarmuka web dibagi per halaman. Ada tombol "halaman selanjutnya" di bagian bawah. Tombol itu memberikan otak kita jeda. Sebuah titik perhentian alami untuk berpikir, "Apakah saya mau lanjut?"
Namun, dengan infinite scroll, jeda itu dihilangkan. Konten baru terus dimuat secara otomatis sebelum kita mencapai ujung bawah. Otak kita tidak diberi ruang untuk bernapas apalagi untuk mengambil keputusan rasional.
Tapi, mengapa otak kita begitu mudah tertipu oleh trik desain ini? Apa sebenarnya yang terjadi di balik tengkorak kita saat jempol ini terus menggeser layar?
Di sinilah kita masuk ke ranah hard science. Aktor utama dalam drama pembajakan ini adalah sebuah neurotransmitter bernama dopamin.
Selama ini, kita mungkin sering mendengar bahwa dopamin adalah hormon kebahagiaan. Itu adalah mitos yang keliru. Ilmu neurosains modern menunjukkan bahwa dopamin bukanlah molekul kesenangan, melainkan molekul antisipasi. Dopamin tidak memuncak saat kita mendapatkan hadiah, melainkan tepat sebelum kita mendapatkannya. Ia adalah mesin pencari di dalam otak kita yang berteriak, "Ayo cari terus, ada sesuatu yang menarik di depan sana!"
Nenek moyang kita sangat membutuhkan sistem ini untuk bertahan hidup. Dopaminlah yang mendorong mereka untuk terus berjalan mencari air di padang savana atau mencari buah-buahan di hutan yang belum dipetakan. Otak kita berevolusi untuk sangat menyukai informasi baru karena di masa lalu, informasi berarti peluang hidup.
Media sosial mengambil keuntungan dari biologi purba ini. Mereka menciptakan fenomena neurologis yang disebut reward prediction error.
Ketika kita menggeser layar dan menemukan sesuatu yang biasa saja, dopamin kita stabil. Namun, ketika tiba-tiba kita menemukan video yang sangat lucu atau berita yang sangat mengejutkan, otak kita menyadari bahwa hadiah yang didapat ternyata lebih besar dari yang diprediksi. Boom! Ledakan dopamin terjadi.
Otak kita langsung mencatat: "Apapun yang baru saja kamu lakukan (scrolling), lakukan lagi! Kita butuh kejutan itu lagi!"
Karena konten di media sosial diatur oleh algoritma acak (sama seperti mesin slot dan merpati Skinner), otak kita berada dalam mode antisipasi yang tiada akhir. Sistem reward atau penghargaan di otak kita benar-benar dikelabui. Kita tidak lagi mencari kesenangan sesungguhnya, kita hanya mencari suntikan dopamin berikutnya. Kita, secara harfiah, sedang dibajak oleh biologi kita sendiri.
Mempelajari semua ini mungkin terasa sedikit menakutkan. Rasanya seolah-olah kita adalah sekumpulan merpati modern yang terjebak dalam kotak digital raksasa.
Tapi teman-teman, tujuan saya membedah ini bukan untuk membuat kita merasa kalah. Justru sebaliknya. Ada kutipan terkenal dari ahli biologi E.O. Wilson yang sangat relevan: "Masalah umat manusia adalah kita memiliki emosi zaman paleolitikum, institusi abad pertengahan, dan teknologi layaknya dewa."
Di seberang layar ponsel kita, ada ribuan insinyur paling jenius di dunia yang dibayar mahal untuk membuat kita tidak bisa meletakkan gawai. Jadi, ketika kita gagal berhenti scrolling, mari kita berikan sedikit empati pada diri kita sendiri. Maafkan diri kita. Otak kita sedang melawan mesin kasino superkomputer. Wajar jika kadang kita kalah.
Namun, menyadari bagaimana trik sulap ini bekerja adalah langkah pertama untuk menghancurkan ilusinya. Sekarang, kita tahu bahwa dorongan "lima menit lagi" itu hanyalah dopamin yang sedang memanipulasi kita.
Kita tidak harus membuang ponsel kita ke sungai besok pagi. Tapi mungkin, malam ini, kita bisa mematikan notifikasi. Mungkin kita bisa mengaktifkan mode layar hitam putih (grayscale) agar layar tidak terlalu menggoda mata. Atau, sekadar menyadari saat jempol kita mulai bergerak otomatis, lalu berhenti sejenak dan bertanya: "Apakah saya benar-benar ingin melihat ini, atau otak saya hanya sedang mencari dopamin murah?"
Kita mungkin punya biologi purba, tapi kita juga punya sesuatu yang tidak dimiliki merpati Skinner: kesadaran. Dan terkadang, mengambil jeda satu detik untuk bernapas sudah cukup untuk merebut kembali kendali atas pikiran kita sendiri.
Selamat beristirahat, teman-teman. Matikan layarnya, dan mari kita tidur.